Jumat, 16 Januari 2015

Untuk memudahkan dalam identifikasi suatu bendadengan benda yang lain, setiap benda perlu diberi nama. Dengan pemberian nama, suatu benda dapat dibedakan dengan benda yang lainnya. Demikian halnya dengan ilmu kimia, untuk membedakan suatu zat dengan zat yang lain, maka perlu dilakukan pemberian nama pada setiap zat. Jadi setiap zat perlu mempunyai nama yang spesifik. Sama seperti unsur, penamaan suatu senyawa pada awlnya berdasarkan nama tempat, nama orang, sifat tertentu dari suatu benda dan sebagainya.
Contohnya ;
- salmiak, karena berasal dari garam yang diperoleh dari kotoran sapi di dekat kuil untuk dewa Jupiter Ammon di Mesir.
- garam glauber, karena yang memberi nama JR Glauber
- garam dapur, karena bahan bumbu masakan dapur.
Oleh karena penemuan senyawa telah mencapai jutaan, maka sangat sulit untuk menghafalkan nama-nama senyawa tersebut. Untuk itu para ilmuwan mengembangkan tatanama senyawa yang bersistem dan telah di atur oleh IUPAC (International Union and Pure Chemistry). Tatanama suatu senyawa diatur menurut komposisi unsur-unsur yang menyusun senyawa tersebut atau yang lebih dikenal dengan istilah rumus kimia.

Tata Nama Senyawa Biner.
Senyawa biner adalah senyawa yang hanya tersusun atas dua jenis unsur. Adapun tatanama sebyawa biner adalah sebagai berikut :
- semua senyawa biner harus memakai akhiran -ida
- Untuk senyawa logam hanya memiliki valensi satu jenis, yaitu seperti logam sebagai ion positif  (kation) dan unsur nonlogam sebagai ion negatif(anion), maka aturannya sebagai berikut :
   1) Jika logam hanya mempunyai valensi satu jenis, yaitu seperti logam golongan IA, IIA dan IIIA, maka penamaannya sebagai berikut : nama logam  +  nama nonlogam   + ida
Contoh :

NaBr  ; natrium bromide
CaCl2   : kalsium klorida
Al2O3   :  alumunium oksida
   2) Jika logam mempunyai valensi lebih dari satu jenis maka di belakang nama Indonesia dari logam ditulis angka Romawi yang merupakan valensi dari logam tersebut.
Contoh :
FeBr2   : besi (II) bromide
FeBr3   : besi (III) bromide
Cu2O   ; tembaga (I) oksida
CuO   :   tembaga (II) oksida
  3) Jika penamaan senyawa dengan nama Latin, maka unsure dengan valensi kecil diberi akhiran –o, sedangkan yang besar diberi akhiran –i
Contoh :
FeCl2   :  ferro klorida
FeCl3   :  ferri klorida
CuI     : cupro iodide
CuI2    :  cupri iodide

- Untuk senyawa kovalen, yaitu senyawa yang tersusn dari unsur-unsur non logam,  rumus senyawa : Unsur yang terdapat lebih dahulu dalam urutan berikut, ditulis didepan.
B – Si- C- Sb- As- P- N- H- Te- Se- S- I- Br- Cl- O- F
Contoh:
  Amonia ditulis (NH3) bukan H3N,  
  air ditulis (H2O) bukan OH2

-. Jika senyawa kovalen membentuk lebih dari satu senyawa, maka untuk membedakan ada dua  cara yang dilakukan IUPAC, yaitu sebagai berikut: 
 a)   Jika pasangan unsur yang bersenyawa membentuk lebih dari sejenis senyawa, senyawa-senyawa itu dibedakan dengan menyebutkan angka indeks dalam bahasa
1 =   mono      3  = tri          5 = penta            7 = hepta             9 = nona
2 =  di             4 = tetra     6 = heksa            8 = okta             10 = deka        
CO    :  karbon monoksida     
CO2   :karbondioksida    
NO     :  nitrogen monoksida 
N2O3 :   dinitrogen trioksida  
N2O    :  dinitrogen monooksida
NO2 :   nitrogen monoksida
N2O5   :dinitrogen tetraoksida                                                          
b) Pemberian nama berdasarkan valensi (bilangan oksidasi) untuk unsur yang memiliki valensi lebih dari satu .
Contoh :
NO     :  nitrogen (II)  oksida 
N2O3 :   dinitrogen(III) oksida  
N2O    :  nitrogen (I) oksida
NO2 :   nitrogen(IV) oksida
N2O5   :  nitrogen(V) aoksida  
Untuk senyawa yang sudah umum dikenal tidak mengikuti aturan di atas.
Contoh : 
H2O = air
NH4 = amonium
CH4 = metana

Tatanama Senyawa Poliatomik
Senyawa poliatomik atau senyawa terner adalah senyawa yang terdiri atas lebih dari dua jenis unsur. Senyawa poliatomik terbagi menjadi dua macam, yakni senyawa ion dan senyawa kovalen.
a. Senyawa Poliatomok ionik
Senyawa poliatomik ionik tediri atas kation (biasanya unsur logam), dan anion poliatomik. Senyawa  poliatomik ionik dibagi lagi menjadi dua jenis, yakni senyawa garam poliatomik dan senyawa basa.
1) Senyawa garam poliatom
Senyawa garam poliatom adalah senyawa tang terdiri atas kation dan anion yang merupakan ion poliatom. Dalam hal ini yang dimaksud ion poliatom adalah ion yang tersusun atas lebih dari satu jenis atom atau unsur yang berbeda.
Penamaan sennyawa garam poliatom dilakukan dengan cara mengurutkan nama kation dan anionnya.
Contoh :
NH4Cl   = amonium klorida
Na2CO3 = natrium klorida
KCN     = kalium sianida
Ion poliatom negatif (anion) hampir sebagian besar mengandung atom oksigen. Oleh sebab itu aturan penamaannya adalah ion yang mengandung atom oksigen lebih sedikit diberi akhiran -it, sedangkan yang lebih banyak diberi akhiran -at.
Contoh :
Na2SO3   = natrium sulfit
Na2SO4   = natrium sulfat
AlPO3     = alumunium phosphit
AlPO4     = alumunium phosphit

2) Senyawa Basa
Basa adalah zat yang dapat melepaskan ion OH- (hidroksida) dalam air. Larutan basa bersifat kaustik (licin seperti sabun) dan rasanya agak pahit. Senyawa basa adalah senyawa ion yang terdiri atas kation logam kation logam dan anion OH-. Penamaan senyawa basa adalah dengan menuliskan nama kationnya diikuti kata hidroksida.
Contoh :
NaOH   = natrium hidrokasida
Ca(OH)2  = kalsium hidroksida
Al(OH)3  = alumunium hidroksida
Untuk kation yang mempunyai valensi lebih dari satu, penamaan senyawa basa sama seperti di atas, hanya di belakang nama kation diberi angka Romawi yang menunjukkan angka valensisinya.
Contoh :
Sn(OH)2   = timah (II) hidroksida
Sn(OH)4   = timah (IV) hidroksida

b. Senyawa Poliatomik Kovalen
Senyawa yang termasuk senyawa poliatomik kovalen adalah senyawa asam oksi. Asam adalah zat yang menghasilkan H+ (ion hidrogen) dalam air. Adapun yang dimaksud asam oksi adalah asam yang anionnya mengandung oksigen.
Tatanaman asam oksi sebagai berikut :
1) Jika hanya membentuk satu senyawa asam, diberi akhiran -at, sedangkan jika terbentuk lebih dari satu senyawa asam, maka asam yang mempunyai oksigen lebih sedikit diberi akhiran -it dan yang lebih banyaj diberi akhiran -at.
Contoh :
H2CO3    = asam karbonat
HIO3       = asam iodat
H2SO3    = asam sulfit
H2SO4    = asam sulfat

2) Jika anion dari senyawa asam oksi dan halogen, yaitu selain mengandung oksigen, juga mengandung oksigen, juga mengandung unsur halogen, maka penamaan senyawa disesuiakan dengan peningkatan kandungan atom oksigennya, dengan urutan sebagai berikut :
hipo - it, -it, - at, per - at
Contoh :
HClO    =  asam hipoklorit
HClO2  = asam klolit
HClO3  = asam klorat
HClO4  = asam perklo

MATERI DAN SOAL RUMUS KIMIA DAN PERSAMAAN REAKSI
  1. Ar DAN Mr
  2. HUKUM DASAR ILMU KIMIA
  3. RUMUS KIMIA DAN PERSAMAAN REAKSI
  4. TATANAMA SENYAWA
  5. soal hukum dasar ilmu kimia
  6. soal rumus kimia dan persamaan reaksi


Sumber
Kimia Untuk SMA kelas X, Unggul Sudarmo, Penerbit Erlangga, 2004
KIMIA untuk SMA/MA Kelas X, Tarti Harjani, dkk, Penerbit MasMedia, 2012


0 komentar:

Poskan Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!